Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

10 September, 2008

Jeritan Anak Bangsa



INI JERITAN BUKAN NYANYIAN


Kabut hitam pekat tengah menyelimuti bangsaku

Menggerogoti setiap yang bernyawa dalam kepedihan

Melemahkan sang tuan dalam keterpurukan


Lihatlah di setiap sudut jalan!

Tua renta tengah menengadah bermohon belas

Sang papa tengah tertidur pulas dalam istana kardusnya

Anak-anak kecil berlarian mencari makan

membawa lantunan syair berbekal semir


Lihatlah di setiap perbukitan!

Asap tebal mengepul karena keegoisan sang pembakar hutan

Rimba telah kehilangan pesona karena hasil karyanya banyak dijarah orang

Rumah segala satwa terus mengucil dan semakin kecil


Lihatlah suasana di atas sana!

Sang tikus berdasi terus melancarkan aksi

memakan setiap jerih keringat dalam mulut buasnya

Bagitu asyik terlena dalam kemegahan tahtanya

Lupa ia memandang kabar di ujung ufuk sana

saat bayi yang lahir bermassa satu koma lima

saat anak kecil yang berlari sangat jauh dari asupan gizi

saat orang kecil berebut pangan demi menyambung nadi


Lihatlah kehidupan para pemuda!

para pecinta semakin lupa dan mulai menggila

terhipnotis dalam syair setan yang kian membahana

melupakan warisan luhur budaya dan tata krama

terus bercengkerama dalam hedonisme dunia


Lihatlah saat alam mulai bicara!

gempa dan kekeringan terus beraksi

erosi dan banjir menjadi teman sejati

luapan lumpur menjadi salah satu bukti

tsunami pun menjadi saksi


Lihatlah saudaraku!

Bagaimanakah sang pewaris negeri dapat melalui hari?

Mencoba merubah pahitnya keadaan negeri

Bagaimanakah kabar bangsaku esok hari?

Akankah nestapa terus berganti?

Akankah bangsa ini dapat menjadi tuan di negeri sendiri?

Renungkanlah itu wahai saudaraku!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar