
Wahai sang penguasa...
Kenapa semua ini kau lakukan?
Pernakah kau membayangkan apa yang kami rasakan?
Hari demi hari silih berganti…
Bulan demi bulan…
Dan bahkan tahun demi tahun kami lalui…
Pernahkah kau membayangkan itu?
Kau hanya bisa mencicipi kemanisan dalam kepahitan kami
Kau berucap ketika berorasi
Kau berjanji ketika berkampanye
Tak lupa pula kau lontarkan janji-janji busukmu itu
Wahai sang penguasa…
Kau telah membiarkan kami kehausan dalam genangan air
Kau telah membiarkan kami kelaparan dalam lumbung padi
Tak puas kau dengan itu
Kau selipkan belati dipunggungmu
yang seketika-tika siap menghujam kami dari belakang
Kau tebarkan isu, kau sebarkan fitnah di bumi kami
Masih tak puas kau dengan itu
Kau kirim bala tentaramu
Kau kirim budak-budakmu
Yang siap merobek kebahagiaan kami
Wahai sang penguasa…
Kau telah menghancurkan impian kami
Kau memperkosa anak di depan orang tuanya
Kau mencincang orang tua di depan anaknya
Dan bahkan engkau menenteng kepala mereka
Masih tak puas juga kau dengan itu?
Wahai sang penguasa…
Kau telah menjadi racun disetiap aliran darah kami
Kau membunuh orang yang tak tahu apa-apa
Bahkan bayi sekalipun
Dimana hati nuranimu?
Dimana?
Wahai penguasa yang licik…
Impian putih kami telah berubah menjadi impian hitam
Dentuman senapan dan desingan peluru yang kau kirimkan itu
Telah menjadi hiburan bagi kami
Ingat.. dan ingatlah wahai penguasa yang tak berhati
Hidup atau mati itu sudah menjadi pilihan kami
Kapan pun dan dimana pun
Kita pasti bersua
Bersua dimedan laga
Tidak ada komentar:
Posting Komentar