
Masih tergores dibenakku
Tragedi tiga tahun yang silam
Jauh dari seribu bayangan
Tapi ketika itu tiba-tiba ia datang
Dan terbanglah seratus ribu kunang-kunang
Yang menjadi cahaya disatu pagi tak berwarna
Jeritan pilu mulai mencabik cakrawala
Takbir pun mulai menggema
Allahu akbar ...
Allahu akbar ...
Allahu akbar ...
Kenapa harus ombak tempat kita berdendang
Kenapa harus lautan tempat kita menari
Kenapa harus sunyi tempat kita menyesal
Kenapa harus diam tempat kita berdo’a
Kayu, besi dan serpihan bangunan
Bercampur gelombang tak tertangkis
Kenapa harus Aceh tempat kita menangis
Kenapa?!
Teka-teki itu tak usah kau jawab
Dan jangan kau lukis sketsa wajah dukamu
Aku tahu hatimu hancur bagaikan pecahan kaca
Hanyut tanpa muara
Patah ditebing tak berdindingKenapa harus lautan tempat kita menari
Kenapa harus sunyi tempat kita menyesal
Kenapa harus diam tempat kita berdo’a
Kayu, besi dan serpihan bangunan
Bercampur gelombang tak tertangkis
Kenapa harus Aceh tempat kita menangis
Kenapa?!
Teka-teki itu tak usah kau jawab
Dan jangan kau lukis sketsa wajah dukamu
Aku tahu hatimu hancur bagaikan pecahan kaca
Hanyut tanpa muara
Tenggelam dipuncak kegetiran
Seratus ribu kunang-kunang pergi
Mengiringi bongkahan harapan yang tak pasti
Membawa doa masa depan
Menuju matahari ke sebuah negeri abadi
Tragedi itu tak akan bisa ku lupakan
Karena kau kunang-kunang yang diciptakan untukku
Hilang tak bergeming
Hanyut tak terapung
Retak tak bersuara
Hanya do’a, puisi dan air mata yang bisa aku persembahkan untukmu
Untukmu yang hilang ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar